Dalam suatu kisah Rasulullah :
Suatu hari ‘Umar bin Khaththab RA menemui Nabi saw. di kamar beliau,
lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang
yang pinggirnya telah digerogoti oleh kemiskinan (lapuk).
Tikar
membekas di belikat beliau, bantal yang keras membekas di bawah kepala
beliau, dan kulit samakan membekas di kepala beliau.
Di salah
satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah
dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).
Maka, air mata ‘Umar bin Khaththab RAmeleleh dan ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi Nabi saw..
Lalu Nabi saw. bertanya sambil melihat air mata ‘Umar RA yang berjatuhan, “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?”
‘Umar RA menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata
dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak
menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku
tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan kaisar duduk di atas
tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi
buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia
pilihan Allah!”
Lalu Nabi saw. menjawab dengan senyum
tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka
dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita
adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau
rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”
‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad)
Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah,
sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.”
Lalu, Nabi saw. menjawab dengan khusyuk dan merendah diri, “Apa
urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain
seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia
berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.”
(HR. Tirmidzi)
Sabtu, 25 Mei 2013
Sabtu, 06 April 2013
Ambil untukmu ..! Atau Bersiaplah ...Kehilangan
Dalam sebuah pelatihan, saya mengambil selembar kertas
polos kemudian menggunting-guntingnya menjadi beberapa bagian. Ada guntingan
besar ada juga yang kecil. Tapi jumlahnya sengaja saya buat tak sama dengan
jumlah peserta, dua puluh orang. Kemudian saya meminta kepada peserta untuk
mengambil masing-masing satu guntingan kertas yang tersedia di depan mereka.
“Silahkan ambil
satu!” demikian instruksi yang saya berikan.
Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.
Dapat diduga, ada yang antusias maju dengan gerak cepat dan mengambil bagiannya, ada yang berjalan santai, ada juga yang meminta bantuan temannya untuk mengambilkan. Dua tiga orang bahkan terlihat bermalasan untuk mengambil, mereka berpikir toh semuanya kebagian guntingan kertas tersebut.
Hasilnya? Empat orang terakhir tak mendapatkan
guntingan kertas. Delapan orang pertama ke depan mendapatkan guntingan
besar-besar, yang berjalan santai dan yang meminta diambilkan harus rela mendapatkan
yang kecil.
Lalu saya katakana kepada mereka, “inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya”.
Lalu saya katakana kepada mereka, “inilah hidup. Anda ambil kesempatan yang tersedia atau Anda akan kehilangan kesempatan itu. Anda tak melakukannya, akan banyak orang lain yang melakukannya”.
Kepada peserta di pelatihan saya jelaskan, simulasi ini
berlaku untuk urusan ibadah. Saya tidak berhak mengatakan bahwa orang yang
lebih tepat waktu akan mendapatkan pahala lebih besar, karena itu hak Allah dan
juga tergantung dengan kualitas ibadahnya itu sendiri.
Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta.
Tapi bukankah setiap orang tua akan lebih menyukai anaknya yang tanggap dan cepat menghampiri ketika dipanggil ketimbang anak lainnya yang menunda-nunda? Jika demikian, buatlah Allah suka kepada Anda. Karena suka mungkin saja awal dari cinta.
Sahabat yang di cintai ALLAH
Sebagai manusia yang hidup di dunia ini, tentunya kita
mendambakan nilai yang terbaik di sisi Allah SWT menjadi hamba yang di cintai ALLAH, sebagai
bekal menuju kehidupan di akhirat kelak. Masih ada kesempatan menjadi hamba yang
terbaik untuk ALLAH. Selama nafas ini masih berhembus.
Di siang itu ketika saya baru saja keluar dari sebuah
gedung saya mendengar sebuah percakapan sejenak,ada sosok Direktur melintas di
hadapan saya.
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si sopir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.”Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”. Supirnya menjawab, “Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan”.
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Saya tersenyum mendengarnya....:)
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?” Si sopir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.”Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, “Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”. Supirnya menjawab, “Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan”.
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Saya tersenyum mendengarnya....:)
Hikmah indah saya dapatkan adlah Syukur merupakan
kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi
rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan
senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama, kita
sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita
miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan
tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang. Pikiran Anda
dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang
besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak
uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya.
Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan
sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun
banyaknya harta yang kita miliki kita tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang
sesungguhnya.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang “kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.
Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang “kaya”. Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa syukur.
Ada cerita
menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu,
padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak
mempunyai kaki, tapi tetap ceria karena masih bisa mempergunakan tangannya.
Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai mengucap syukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah adanya kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah adanya kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.
Selasa, 02 April 2013
” Sepenggal Memory Perjalanan Dakwah”
BismillAh....
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu berjalan demikian cepat.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, waktu berjalan demikian cepat.
Tidak terasa satu tahun lebih telah berlalu menjalani menuntut
ilmu di kota metropolitan. Ketegangan, kesulitan, senyuman, dan tangisan
semuanya teralami ketika mengibarkan panji pejuang dikota ini.
Semula tatapan pesimis muncul dari dalam diri,
melangkahkan kaki berkelana mengarungi samudera kota yang belum pernah
terlalui, seakan tak percaya .
dulu kota ini adalah seperti angan saja dalam benakku
ketika aku masih duduk di bangku SMA, namun... angan itu ada didepan mataku
sekarang...
sebuah permulaan menuntut ilmu,
Allah Rabbul `Alamin adalah Dzat
yang Maha Berkehendak. Namun, ketika Allah menghendaki suatu kaum untuk
mendapatkan Hidayah-Nya, maka tidak ada satu orang pun yang bisa
menghalanginya. Demikian pula jika menghendaki kesesatan suatu kaum, maka tidak
ada seorang pun yang menghalanginya.
Alhamdulillahilladzi bi ni`matihi
tatimmu Ash Sholihat, segala puji bagi Allah yang mana dengan Nikmat-Nya
menjadi sempurnalah berbagai amalan shalih. Berbekal tawakkal, do`a dan
semangat .
Berbagai aktivitas ku lalui,
melangkah menyusuri jalan perkantoran ku jajaki,
Semua langkah bermula dari Niat, aku sosok yang
bertekad bisa menuntut ilmu di kota ini,
keteguhan dan keyakinan ini lah hingga ALLAH pertemukanku dengan sebuah
berbagai lembaga ta’lim. Alhamdulillah dari berbagai lembaga ALLAH tuntut aku
dengan tangannya menuju sebuah ilmu
tentang TADABBUR ALQUR’AN.
dengan sebuah harapan besar bahwa hal ini akan menjadi
sebab Hidayah dan Ukhuwah terjalin bersama orang-orang shalih pilihan ALLAH.
hingga saat ini, perjalanan dakwah ini menjadi Cinta dalam hidupku, menjadi sosok gadis kecil di usia 19 tahun bercita-cita menjadi “gadis yang berilmu”. bersama para pejuang dakwah menjalin ukhwah,menebar kebaikan, mengajarkan ilmu ,menyeru untuk menjadi sosok yang di cintai ALLAH., sosok PILIHAN ALLAH.
Rasa penat dan letih yang terkadang
muncul ketika menjalani dakwah ini,menuntut ilmu hingga dini hari, namun rasa
tak terasa hilang begitu saja ketika mendengar ,membaca baitan-baitan syair para ULAMA besar
yang sungguh tinggi keutamaan nya.
Mereka bersungguh-sungguh dan
mencurahkan seluruh kemampuannya untuk dapat menjadi sosok yang berilmu. Hingga
mungkin sebagian orang terkesan berlebihan ketika mengetahui kisah para ULAMA
tersebut dalam memanejemen waktu mereka, yang terkadang makan pun menjadi
sebuah kesia-sia an jika tak di barengi dilalui dengan ilmu, walaupun sekedip
matapun. Alhasil atas Karya Ulama –ulama tersebutlah terlahir berjuta-juta
buku, berjuta-juta syair yang mungkin sedikit seorang dapat membacanya seumur hidupnya.
Laa haula wa laa quwwata illa billah, tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan kehendak Allah, Puji dan Syukur hanya bagi Allah Rabbul Alamin yang telah memilih sebagian hambanya untuk menjadi sebab terbukanya pintu hidayah dan kebaikan bagi suatu kaum yang dianggap lemah dan tak berharga. Hal ini adalah sesuatu yang sangat berharga jauh lebih berharga dari kekayaan yang mewah , sebagaimana sabda Rasululloh –Shalallahu alaihi wa sallam- bahwa jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebab dirimu, maka hal itu lebih baik dari pada onta-onta merah (kendaraan yang paling mewah).
Dan aku memilih
jalan ini.... bersama guru-guruku dan sahabat perjuanganku..
Aku kutip
dari tulisan Tuan GURU ku Ust. Bachtiar Nasir :
“ jalan ini adalah jalan yang sudah ALLAH
janjikan , bahwa barang siapa yang menempuhnya akan diberi balasan yang terbaik
syurga di akherat dan kemulaiaan di akherat.
Jalan yang menjadi pilihan para
nabi, rasul dn orang-orang yang mengikutinya. Dan sungguh bagi yang tidak
mengambil jalan ini sebagian jalan hidupnya akan dia temui ujung yang buruk “
Jalan ini jalan untuk mengingatkan
sekalian manusia bahwa tidaka ada DZAT yang berhak untuk disembah,untuk
diibadahi,untuk di taati, Kecuali ALLAH Rabb semesta Alam.
Kini saatnya bagi kita untuk
bergandeng tangan merapatkan barisan menyusun langkah yang pasti untuk mengibarkan
panji Dakwah menyongsong kemenangan yang Allah janjikan. Sungguh
wajah-wajah bercahaya yang merindukan Islam akan selalu muncul bagaikan
matahari di pagi ini. Allahumaa Aaamiiiin.............
Minggu, 24 Maret 2013
Tata HATIMU dan Segera REKONTRUKSI.
bissmillah.........
Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan, jika kondisi hati baik maka baiklah kondisi seluruh tubuh dengan pola fikir dan tindakannya,. Menata hati adalah tahapan pertama, untuk kemudian bisa merekontruksi pola fikir dan melahirkan rekontruksi diri yg lebih segar dan siap menghadapi kehidupan.
Memang Tekanan Hidup ini Kadang membuat kita benar benar terlupa akan adanya Akhirat,
mari mengIngat sabda Rasulullah;
“Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan, jika kondisi hati baik maka baiklah kondisi seluruh tubuh dengan pola fikir dan tindakannya,. Menata hati adalah tahapan pertama, untuk kemudian bisa merekontruksi pola fikir dan melahirkan rekontruksi diri yg lebih segar dan siap menghadapi kehidupan.
Memang Tekanan Hidup ini Kadang membuat kita benar benar terlupa akan adanya Akhirat,
mari mengIngat sabda Rasulullah;
“Perbandingan dunia dengan akhirat seperti seorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya. (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
bagi
hati hati yang beriman, dan tidak ada tawar menawar didalamnya.
Tanyakanlah kepada dinding yg bergetar dibelantara dadamu, kepada siapa marah yg kamu pendam?
Tanyakanlah kepada dinding yg bergetar dibelantara dadamu, kepada siapa marah yg kamu pendam?
Adakah Allah telah salah?
Adakah
Allah merugikanmu?
Katakan tidak, dan BANGKITLAH!
Dunia ini luas, ada yg bilang sempit.
Jika hari ini kamu merasa dan ingin mengatakan dunia sempit, DEFINISIKAN ULANG, seluas apa dunia itu sangat tergantung “seluas” apa matamu memandang, seikhlas apa hatimu menerima dan sedalam apa pemahaman jiwamu.
PILIHAN ALLAH TIDAK AKAN MERUGIKANMU SEDIKITPUN. ...
Kita hanya belum mengenali atau menyadari tentang kebaikan didalamnya, renungkanlah sekali lagi dan perhatikan baik baik, sayangi dirimu, sayangi hatimu, berhentilah menyesal dan taburi jalanan itu dengan senyuman dan keikhlasan.
Saat dicela itu-lah keistiqamahan kita di uji, jangan menyerah, jangan patah. tersenyumlah, para pencela itu hanya iri kepadamu, dia sendiri tak sadar bahwa dia menghina dari tempat yg jauh lebih rendah..
Sudah sepantasnya orang beriman itu berbahagia, memiliki Allah tuhan yang selalu mendengarkan setiap bisikan keluhan keluhanmu
Dunia ini luas, ada yg bilang sempit.
Jika hari ini kamu merasa dan ingin mengatakan dunia sempit, DEFINISIKAN ULANG, seluas apa dunia itu sangat tergantung “seluas” apa matamu memandang, seikhlas apa hatimu menerima dan sedalam apa pemahaman jiwamu.
PILIHAN ALLAH TIDAK AKAN MERUGIKANMU SEDIKITPUN. ...
Kita hanya belum mengenali atau menyadari tentang kebaikan didalamnya, renungkanlah sekali lagi dan perhatikan baik baik, sayangi dirimu, sayangi hatimu, berhentilah menyesal dan taburi jalanan itu dengan senyuman dan keikhlasan.
Saat dicela itu-lah keistiqamahan kita di uji, jangan menyerah, jangan patah. tersenyumlah, para pencela itu hanya iri kepadamu, dia sendiri tak sadar bahwa dia menghina dari tempat yg jauh lebih rendah..
Sudah sepantasnya orang beriman itu berbahagia, memiliki Allah tuhan yang selalu mendengarkan setiap bisikan keluhan keluhanmu
janganpernah lupa untuk berdo’a karena itu lah
senjatamu, ingat “ ALLAH berada di dalam prasangka hambanya”.
Do’a adalah yang membuat orang muslim unggul dibanding orang orang kafir, biarkan saja mereka tertawa tawa karena hatinya itu kosong!
ingatlah segera seketika Ujian itu akan berakhir, disana Ada Guncangan. Seperti Halilintar yang menandai berakhirnya mendung,.. disanalah hujan akan turun menebar titik titik harapan.
“… Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmat-Nya lagi memperkenankan doa hamba-Nya.” (QS Hud 61)
Karena perahu kehidupan yang kita naiki ini tidak akan selalu setabil, lautan tidak selamanya indah, pasti akan ada badai dan gelombang.
Do’a adalah yang membuat orang muslim unggul dibanding orang orang kafir, biarkan saja mereka tertawa tawa karena hatinya itu kosong!
ingatlah segera seketika Ujian itu akan berakhir, disana Ada Guncangan. Seperti Halilintar yang menandai berakhirnya mendung,.. disanalah hujan akan turun menebar titik titik harapan.
“… Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmat-Nya lagi memperkenankan doa hamba-Nya.” (QS Hud 61)
Karena perahu kehidupan yang kita naiki ini tidak akan selalu setabil, lautan tidak selamanya indah, pasti akan ada badai dan gelombang.
Bekali
diri dengan Ilmu untuk menaklukan segala kemungkinan itu, jgn terlalu banyak
membawa bekal makanan yang hanya akan menjadi beban perahu kita. Karena disekitaran
pasti ada Ikan yang telah Allah sediakan..ikan itu mudah ditangkap jika kita
punya ilmu untuk menangkapnya.
Jangan terlalu khawatir, perhatikan saat kita lapar, siapa yg memberi kita makanan? Allahlah yg mengantarkan kepada kita berpiring piring nasi itu. Melalui tangan tangan yg Ia kehendaki. Lalu usia kita dipanjangkan, hingga pagi ini.
Alhamdulillah,.
Sekali lagi, Sejatinya dunia itu indah dan teramat luas, ketika kita merasakannya sempit, dapat dipastikan saat itu ada yang salah dengan cara kita memandang. Karena keindahan dan keluasannya sangat tergantung kepada seluas apa penglihatan dan pemahaman kita. ^^
Mulailah dan janganlah menanti ujung yg mungkin tak akan kau temui untuk bahagia, temukan energi kebahagiaan dalam syukur dan positive feeling.
Jangan takut gagal.
Jika kamu tanya siapa guru terbaikmu ? maka jawabannya adalah ‘kegagalan’. Bergurulah pada setiap kegagalan di jurang dimana kamu terperosok, melawan terjalnya tebing keraguan yang merintangi jalan yang kita tempuh.
Bersyukur saat inspirasi menyentuhmu, atau saat ia datang menemui lorong fikiranmu. Sesungguhnya ia sangat mahal, dan tidak bisa diciptakan atau dihadirkan sesaatpun, karena dia terpancar dari setetes nur Illahi..
Catatlah segera setiap inspirasi inspirasi itu, sebagai bentuk syukurmu kepada pemberi Inspirasi.
Sekali lagi…
Melangkahlah, ...lari lah dari zona amanmu..
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih jelek daripada kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya”. (Ibnul Qayyim)
Jangan terlalu khawatir, perhatikan saat kita lapar, siapa yg memberi kita makanan? Allahlah yg mengantarkan kepada kita berpiring piring nasi itu. Melalui tangan tangan yg Ia kehendaki. Lalu usia kita dipanjangkan, hingga pagi ini.
Alhamdulillah,.
Sekali lagi, Sejatinya dunia itu indah dan teramat luas, ketika kita merasakannya sempit, dapat dipastikan saat itu ada yang salah dengan cara kita memandang. Karena keindahan dan keluasannya sangat tergantung kepada seluas apa penglihatan dan pemahaman kita. ^^
Mulailah dan janganlah menanti ujung yg mungkin tak akan kau temui untuk bahagia, temukan energi kebahagiaan dalam syukur dan positive feeling.
Jangan takut gagal.
Jika kamu tanya siapa guru terbaikmu ? maka jawabannya adalah ‘kegagalan’. Bergurulah pada setiap kegagalan di jurang dimana kamu terperosok, melawan terjalnya tebing keraguan yang merintangi jalan yang kita tempuh.
Bersyukur saat inspirasi menyentuhmu, atau saat ia datang menemui lorong fikiranmu. Sesungguhnya ia sangat mahal, dan tidak bisa diciptakan atau dihadirkan sesaatpun, karena dia terpancar dari setetes nur Illahi..
Catatlah segera setiap inspirasi inspirasi itu, sebagai bentuk syukurmu kepada pemberi Inspirasi.
Sekali lagi…
Melangkahlah, ...lari lah dari zona amanmu..
“Menyia-nyiakan waktu itu lebih jelek daripada kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan akhirat, sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya”. (Ibnul Qayyim)
Langganan:
Postingan (Atom)


