Selasa, 01 Oktober 2013

Allah maha menutup Aib





Bissmmillahirrahmanirrohim..

Sahabat,sudah tidak asing lagi bagi kita mendengar cerita para  orang orang shalih terdahulu dalam menerima berbagai ujian,bagimana mereka menghadapi dari berbagai ujian kecil hingga besar, dari kisah mereka kita bisa mengambilnya untuk kita jadikan tauladan hidup. Nah, disini saya tidak akan bercerita banyak tentang bagaimana mereka semua dalam menghadapi cobaan namun saya ingin mengambil sedikit kisah tentang nabi Yusuf A.s. dan di kaitkan dengan sebuah hikmah untuk kita ambil sebagai renungan.

Ingat , ! kisah nabi Yusuf a.s yang di goda seorang wanita , teman teman tahu siapa nama wanita yang menggoda nabi yusuf ?? 

Yap, namanya adalah “Zulaikha”.

Teman teman dari mana tahunya bahwa wanita itu bernama “Zulaikha”? Allah tidak menyebutkannya di Alqur’an . ya kan,?

Refleks ketika kita di tanya seperti itu pasti akan menjawab “dari hadits”. 

Karena Hadits mendukung segala kisah yang ada di dalam Alqur’an dengan lebih detail.
Nah sekarang timbul kah pertanyaan di hati para sahabat, “ mengapa ALLAH tidak menyebutnya di dalam Alqur’an”?

........................................................................................................................................


Sahabat tau kenapa ? 

karena wanita yang bernama “Zulaikha” MASIH MEMILIKI RASA MALU.
Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu ? 

di dalam kisah ia menutup tirai sebelum menggoda nabi yusuf a.s. ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya,dengan tidak menyebut namanya di dalam Alqur’an. 

Dari cerita di atas, apa yang bisa kita ambil hikmahnya, yang bisa menjadi bahan renungan uuntuk diri kita, ingatkah sahabat mengenai segala aib dan dosa yang pernah kita lakukan di masa lalu,di hari kemarin,dan ALLAH menutupinya. 

Sahabat betapa Allah maha baik ,tidak hanya sekali namun berulang kali ALLAH menutupnya,hanya karena masih memiliki rasa malu Allah tidak membuka identitas kita ?. 

Pernahkah seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain ?

Apakah semua karena begitu banyak kebaikan yang dilakukan orang itu ?

Atau karena ALLAh telah menutupi aib orang itu ?

Mungkin ada yang menganggap,saya, anda dan kita adalah orang yang baik.

Jika saya jujur wahai sahabat, sungguh itu bukan karena kebaikan kita,itu semata karena ALLAH masih menutup segala aib kita,jika tidak maka habislah kita,

terpuruk seter-puruknya,

malu semalu-malunya,

hina sehina-hinanya,

seperti tak ada lagi tempat yang tersedia untuk menerima kita.

Maka kita harus berusaha menutup aib orang lain,sebagaimana ALLAH yang maha baik telah menutup aib kita selama iini.

Maka ketika seseorang memuji kita, mari jangan jadikan itu hal yang paling kita senangi karena di puji orang lain, karena semua yang kita lakukan bukan karena ingin dipuji orang lain, tapi karena mencari RidhoNya.  lakukan seperti apa yang di contohkan sahabat Abu bakar Ash shiddiq ra .

“ya ALLAh jadikan diriku lebih dari sangkaan mereka,jangan lah engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka”.

Sahabat,semoga tulisan ini bermanfaat, selamat mengambil hikmah di dalamnya...
Terimakasih sudah membaca ....



Minggu, 29 September 2013

Mengapa merasa kehilangan?



Bissmillahirrahmanirrahim...


Sebuah pertanyaan yang mengganggu pikiran saya saat ini, yang sulit sekali dijelaskan jika saya memahami seperti orang lain memahaminya selama ini,
 tetapi ternyata itu akan menjadi sederhana sangat sederhana yang saya bahagia dengan itu jika saya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Tahukah sahabat apa pertanyaan itu ?


Pertanyaan itu terkunci dalam kata “TAKDIR” , ya sebuah kabar rahasia ALLAH untuk hambanya,kabar itu bahagia,ataupun kabar itu justru menyakitkan hati karena tidak sesuai dengan harapan kita. Dan sempat terbesit dalam hati kita  bertanya “kenapa takdir menyakitkan itu terjadi  ya Robb,?”.


Saya ingin mengajak pada sahabat memandang itu dari sisi yang berbeda, dari sudut yang sering kita lupakan saat kenyataan (takdir) menyakitkan itu terjadi.


Engkau tahu sahabat ,hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya,amat berharga. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka,cacat,kehilangan pekerjaan,kehilangan anak,orang tua,benda-benda berharga,kesempatan,kepercayaan, nama baik dan sebagainya. kehilangan sahabat yang amat kita kasihi . dalam ukuran tertentu mungkin kehilangan orang yang kita cintai jauh lebih menyakitkan. Tetapi  kita tidak membicarakan ukuran relatif lebih dan kurang. Karena semua kehilangan itu menyakitkan.


Sahabat,apapun bentuk kehilangan itu ketahuilah cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi.bukan dari sisi yang di tinggalkan....


Dalam kasus kehilangan seseorang yang kita cintai penjelasan ini amat sangat rumit jika kita memahami dari segi yang di tinggalkan cobalah pahami dari sisi yang pergi...jika kita memaksakan diri memahami dari segi diri kita (yang ditinggalkan)  maka membuat kita mengutuk Tuhan,hanya mengembalikan masa masa kenangan. Akan bertanya apakah belum cukup semua penderitaan yang kita alami,bertanya mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang yang baik,dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang yang jahat. Jika dari segi ini kita memandang maka kita tidak akan pernah menemukan jawabannya.


Sungguh takdir terbaik itu hanya ALLAH yang tahu, mungkin saat kita kehilangan benda, Allah ambil benda itu karena itu hal yang terbaik untuk kita, contoh kasus :


Kehilangan orang yang sangat kita cintai,sahabat kita misalnya,mungkin di hari itu saat ia pergi meninggalkan kita,meninggalkan dunia yang fana ini,ia telah mencapai tujuan hidupnya, yah, orang orang yang hidup sudah seharusnya memiliki tujuan. dan ketika ia telah menyelesaikan tujuannya itu maka ia akan tersenyum saat maut menjemput.
 

“Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hambanya,apakah kesedihan kehilangan itu kurang  menyakitkan?”. Ketahuilah sahabat jika seseorang telah memiliki tujuan hidup, maka dia tidak akan pernah bertanya soal ini. Bagi nya semua kesedihan yang di alami adalah tempaan,harga tujuan tersebut...... semua orang bisa mendefinisikan hidupnya masing-masing,seorang istri ingin ridha suaminya, seorang ayah ingin anaknya menjadi dokter,insinyur, itu semua tujuan hidup.tidak peduli sekecil apapun itu yang terpenting mereka sungguh sungguh melakukannya membuatnya NYATA. Ada banyak orang yang terjebak dengan rutinitas seharian mereka ,hanya berangkat pagi dan pulang sore. 


“tidak, tentu tidak ada yang salah dengan rutinitas, langit bahkan menciptakan hidup dengan rutinitas,tapi justru kita memiliki kesenangan dalam rutinitas itu dengan sepenuh hati. Yah sepenuh hati melakukan , sebuah proses yang kita lalui dengan kesedihan semuanya adalah bagian dari sebuah harga untuk mencapai tujuan kita hingga maut menjemput.


Dunia adalah ladang mencari ridhaNya, mencari kebaikan, mencari amanah yang akan di pertanggung jawabkan di hadapan Sang pencipta.


Dan hakikat nya semua yang kita miliki di dunia ini adalah titipanNya,tubuh kita,keluarga kita,rumah,mobil dan lainnya semua adalah milikNYa. 


Bertanya lah pada diri kita sendiri,”  Mengapa Allah menitipkannya kepada Kita? “ untuk apa ?. semuanya bukan milik kita, apa yang harus kita lakukan pada titipanNya?,  mengapa juga hati kita sering terasa berat saat titipan itu diminta olehNya?..


Mari kita renungkan bersama...temukan jawabannya didiri teman teman masing masing....

Semoga sharing ini bermanfaat khususnya yang berbagi dan untuk sahabat pembaca..


Kamis, 29 Agustus 2013

Silaturahim 2013



Bissmillahirrahmanirrahim...

Hai temans, apa kbar semua.? Lama sekali rasanya jari ini tak berucap, kini izinkan ya saya  ingin berbagi sedikit pengalaman ketika Masa Holidays di tahun 2013. Selamat membaca. !!

Liburan tiba. Semua mahasiswa tentu mempunyai planning masing- masing. Ya termasuk saya, tepat 22 july lalu , saya memutuskan untuk segera kembali ke sumatra (kampung halaman.) karena beberapa hal , berbeda dengan tahun lalu bulan ramadhan saya habiskan menuntut  ilmu di jakarta selama ramadhan full. 

Sebelum tiba di kampung, saya sempat singgah di suatu kampus hijau di daerah sumatra, kampus nan asri ini adalah kampus yang dulu menjadi impian saya untuk bsa kuliah dan menjadi bagian keluarga disana.ya tepatnya 2 tahun yang lalu saat musim SMPTN.

Menikmati suasana rindangnya pepohonan,berbagai kegiatan mahasiswa di kampus dan tegur sapa serta berbagi cerita dengan teman baru itulah kegiatan saya ketika singgah beberapa hari disana. Saya menjernihkan fikiran dengan semua itu sebelum pada akhirnya untuk menempuh hingga 7 jam tiba di kampung halaman saya dilahirkan.

Suatu sore bersama teman saya, saya memanggilnya Ngah Bie, beliau adalah gadies jepang ( karena bermata sipit) huuheuupzz..:P itulah julukannya, tapi asli Sumatra. beliau memperkenalkan saya pada sosok mujahidah mujahidah tangguh,dalam acara buka bersama .. kakak” senior ini adalah ternyata teman satu angkatan “Ngah Bie”. Dengan berbagai fakultas di kampus. Saya terpesona dengan sambutan hangat mereka, mereka sangat ramah sekali. Menebarkan salam juga menghiasi wajahnya nan cantik dengan senyuman. 

inilah mujahidah mujahidah tangguh..

 

Cerita Ngah bie, ini adalah teman teman BBQ ( Bimbingan belajar Alqur’an)  di kampus, dan mereka satu angkatan, namun tentu dalam dunia perkuliahan sangat berbeda ketika kita masih SMP Atau SMA yang lulus dengan bersamaan, teman-teman ngah ini berbagi cerita di antara mereka ada yang sudah lulus, ada yang sudah mengajar mengajar sembari garap “skrip sweet.”, ada yng sudah bekerja, adaa yang baru sidang, ada yang sedang menggarap skripsi nya..full .( Seperti Ngah Bie.. hehehuupp....) bermacam-macam.



Ada suatu kesimpulan yang membuat menjadi renungan pada diri saya, : ketika seseorang mungkin teman-teman, dan saya saat ini berada di bangku kuliah, di kuliah ini adalah kesempatan kita tidak hanya belajar namun membangun suatu link sebanyak-banyaknya. Karena pada kenyataannya nantinya ketika sudah terjun dlam dunia pekerjaan terkadang sangat berbeda dengan apa yang kita pelajari di bangku kuliah.
saat  ini saya berada di zona proses.. dimana saya dan mungkin teman-teman juga berada dzona ini sedang berjalan maju melangkah.. ibaratkan ketika kita sedang menempuh pendakian gunung. Puncak gunung adalah tujuannya, sedangkan kita lulus kuliah adalah tujuan kita. Dalam prosese perjalanan itu kita membutuhkan banyak biaya, menghabiskan banyak waktu,energi,juga fikiran, ada sulitt dan menghadapi berbagai rintangan, terkadang harus  jatuh , kemudian bangkit ,terus memulai.. Dan nanti nya akan ada saat masa ketika kita sampai kepuncak gunung, kita sampai pada tahap LULUS. 
Dan tahap titik ini bukanlah foto wisuda , bukanlah foto saat kita berada di puncak gunung yang membuat kita merasa puas , , namun ternyata. Sesuatu yang membanggakan itu  Teman, yang membuat kita tersenyum itu adalah.
“Bahwa kita telah melakukan perjalanan proses yang panjang , sangat panjang yang menghabiskan banyak hal, namun Kita bisa melewatinya, sungguh bisa,KITA BISA, padahal  saat itu dulu kita pernh berkata TIDAK BISA.J J ”.
Sungguh sesulit apapun persoalan pasti akan menjadi mudah dengan senyuman orang-orang yang PERCAYA DIRI. Ya.. merelka yang punya percaya diri pada dirinya.
Karena keyakinan terhadap diri sendiri itulah yang bermakna besar untuk mencapai prestasi dalam kehidupan seseorang.
Ketiaka puncak LULUS telah di tangan, Gelar telah di capai,inilah saatnya seberapa banyaknya diri kita bermanfaat  bagi orang lain, inilah PRESTASI, bukan lagi Rangking Kelas, Bukan lagi Juara olimpiade, Tapi Seberapa pengaruhnya diri kita membawa Prestasi Perubahan yang Positif untuk Pribadi, keluarga , Agama juga negri kita tercinta. 

terimakasih kakak kakak yang shalihah.. semoga ukhwah kita tetap terjaga..dengan baik yaa... pasti akan merinduimu kkakak.. :) 


To be continue In syaa ALLAH :P...


  • Sabtu, 01 Juni 2013

    Kado Milad untuk Mas Farabi


    Seorang gadis manis dengan sebuah novel islami di pangkuannya tampak khusyuk menyimak alur cerita dari buku yang ia baca. Jilbab langsung pakai warna merah muda yang melekat manis menghiasi kepalanya tampak bergerak tertiup angin, tatkala sebuah suara memanggilnya.
     
    “Sarah, ayo masuk! Siang-siang gini kok di luar, apa gak panas?”

    “Iya,Ma. Sebentar.” Balas Sarah, sembari menggapai tongkat di samping kanan tempatnya duduk saat ini.

    Yaahhh, inilah nasib gadis yang baru genap berusia 15 tahun itu. Karena sebuah kecelakaan motor yang ia alami 1 tahun lalu, sekarang kemanapun ia pergi harus menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya. Saat itu Sarah baru saja merayakan kelulusannya dari Sekolah Menengah Pertama, dan sebagai hadiah, farabi mengajak adik kesayangannya itu pergi jalan-jalan. Kakak beradik ini memang begitu dekat, tidak ada yang mereka tutupi satu sama lain. farabi sangat sayang dengan adik satu-satunya itu, dan seringkali memanjakannya. Kala itu, farabi tidak menyadari saat di depannya ada sebuah truk yang mengalami ban bocor yang tiba-tiba berhenti, alhasil dia-pun tidak bisa menghindar karena laju motor Tiger-nya yang terlampau kencang. Dan kejadian itu merenggut kaki kanan Sarah.
    Suatu kenyataan yang sangat pahit memang, tapi Sarah menerimanya dengan berbesar hati. Bahkan dia tidak mau menampakkan air mata kepedihannya sedikitpun di hadapan keluarganya.

    “Sarah, mas minta maaf yaa, ini semua memang karena kelalaian mas.” Ucap farabi sesaat setelah Sarah menjalani operasi kala itu, dengan mata berkaca-kaca.

    “Ndak kok mas, ini semua sudah jadi kehendak Allah. Toh, Sarah masih lebih beruntung, karena masih punya satu kaki yang sempurna, sedangkan diluar sana bahkan ada yang kehilangan kedua kakinya.” Ucap Sarah ketika itu dengan senyuman manis yang disambut pelukan dari farabi.

    “Kamu memang seperti bidadari, Dek!” ujar farabi lirih tepat di telinga saudara tunggalnya itu. Sarah yang sedang duduk di kursi roda hanya tersenyum, walaupun sebenarnya hatinya merintih.

    ***


     Sarah, adik farabi yang berhati peri

    Tapi beberapa bulan setelah kejadian itu farabi mulai berubah, dia kini tak pernah lagi mengajak Sarah pergi refreshing. Bahkan ke taman yang ada di kompleks perumahan-pun farabi seringkali tak mau. Hubungan adik-kakak ini pun menjadi semakin renggang saat farabi di terima kerja di sebuah surat kabar terkemuka di kotanya. Sarah merasakan semua perubahan dari diri kakaknya ini, tapi dia hanya menyimpannya dalam hati. Kerinduan akan kebersamaannya dengan farabi menggiringnya masuk ke kamar berukuran 4×4, yang di dindingnya di penuhi oleh foto seorang gadis cilik dengan bocah lelaki, “itu Sarah dan mas farabi pas liburan di Jogja.” Gumamnya lirih, sembari mengusap lembut sebuah foto yang berbingkai kayu.
    Ruangan ber-cat putih inilah yang menjadi tempat singgahnya setiap kali omelan mama tertuju padanya, dan disana juga banyak ia habiskan waktu bersama kakak semata wayangnya itu. Mulai dari main video game, nonton film horror, sampe bareng-bareng bikin contekan buat ujian.

    “Mas, Sarah kangen,kenapa mas farabi berubah?” Ucapnya lirih, tak terasa pipinya telah basah oleh linangan air mata. Sepersekian detik mata Sarah tertumbuk pada sebuah buku catatan bersampul kulit yang dibiarkan terbuka. Mata jelinya mulai membaca kata demi kata yang ada di dalamnya, dia yakin benar bahwa tulisan rapi ini punya farabi.

    Usai sholat maghrib berjamaah, Sarah berjalan menuju ruang makan, tempat seluruh keluarganya biasa berkumpul. Sayang, akhir-akhir ini farabi semakin jarang makan malam di rumah, kesibukannya membuat lelaki berusia hampir 25 tahun itu pulang larut malam.

    “Ma, mas farabi sekarang sibuk banget ya, berangkat subuh ehh pulangnya malem.” Ucap Sarah, memecah keheningan.

    “Yaa, kan mas farabi baru mulai kerja, sayang. Jadi ya, harus rajin-rajin deh, biar di sukai sama bosnya.” Jawab mama sekenanya, sambil menuangkan air ke dalam gelas di hadapan papa.

    “Kenapa,Sarah kesepian ya, mas farabi jarang di rumah?” sahut Papa, sambil menatap lurus ke arah anak keduanya itu.

    “Hmmm, iya sedikit.” Jawab sarah singkat sambil nyengir kuda. Jujur, sebenarnya Sarah amat sangat kesepian, dan kecewa dengan farabi.Tapi dia coba untuk mengerti, dan berprasangka baik atas perubahan sikap kakaknya itu.
    Jam dinding di kamarnya telah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Sarah masih juga terjaga, tak ada rasa kantuk sedikitpun ia rasakan. Maka di putuskannya mengambil sebuah buku berwarna hijau limau, buku diary pemberian kakaknya dulu.

    Jum’at, 31-05-2013
    Pukul 23.03

    Hari ini, entah hari keberapa sejak aku merasa mas farabi seperti orang asing. Kakak yang selalu membuat aku bangga setiap berada di sampingnya,dia pintar, ramah, humoris, dan tentu saja ganteng.Kakak yang menghapus air mataku setiap kali aku menangis, kakak yang selalu memelukku saat aku ketakutan,dan kakak yang selalu ada setiap aku membutuhkan perlindungan. Sekarang dia dimana? Dimana mas farabi-ku?
    Mas farabi, Sarah kangen…
    Kenapa mas berubah? Apa mungkin mas farabi malu mempunyai adik yang tak lagi mempunyai kaki yang sempurna?
    Ahhh… itu gak mungkin, mas farabi sayang kan sama Sarah? Maaf ya mas, Sarah jadi su’udzon.
    Sarah cuma kesepian, kapan mas farabi menuhi janjinya, katanya mas mau ajak Sarah ke kebun teh lagi kan???

    Gadis berkulit putih ini pun segera menutup catatan hatinya hari ini, dan beranjak ke tempat tidur mininya. Sambil menatap ke langit-langit kamarnya yang berwarna biru, Sarah ingat sesuatu “aku mau kasih hadiah yang special buat ulang tahunnya mas farabi nanti” ucapnya lirih, sesaat sebelum matanya terpejam.
    Esok hari, setelah pulang dari sekolah, Sarah tak langsung pulang, dia mampir ke sebuah rumah berlantai dua yang terletak beberapa blok dari tempat tinggalnya. Dia mulai menjalankan aksinya, seorang wanita muda berjilbab putih, dengan senyuman memikat datang menghampirinya. Wanita cantik itu bernama Lia Agustina, dan kerab disapa  Lia. Tanpa terlalu banyak berbasa-basi Sarah langsung mengungkapkan tujuannya mendatangi adik kelas kakaknya semasa SMA dulu.

    “Mbak  Lia, Sarah cuma mau bilang kalo sebenarnya mas farabi suka sama mbak.” Ucap Sarah dengan memandang lekat kearah Lia

    “Sarah, kamu ngomong apa sih,Dek?” balas   Lia  dengan tersenyum kecut, seraya tak percaya dengan apa yang diucapkan gadis 15 tahun di hadapannya itu.

    “Sarah serius mbak, mas farabi ternyata sudah lama suka sama mbak Lia .Apa mbak gak suka sama dia?” ujar Sarah selanjutnya.

    “Saa..rah, bukan begitu, tapi….
    Belum sempat   Lia  menyelesaikan kata-katanya, Sarah sudah memotong,

    “Mbak, Sarah sayang sekali sama mas farabi. Sarah pengen kasih kado yang paling special buat dia. Dan kemarin Sarah baca catatannya mas farabi, ternyata mbak Lia adalah cewek yang paling diinginkannya. Sarah, mau mbak jadi kado special buat mas farabi-ku. Kalau mbak Lia belum yakin dengan omongan Sarah, silahkan baca buku catatan mas farabi.” Papar Sarah panjang lebar, tangan kanannya mengeluarkan sebuah buku dari dalam ranselnya.
     Lia -pun mulai membuka, dan membaca buku bersampul coklat itu. Dia sendiri tak pernah mengira jika itu adalah tulisan tangan farabi.Meskipun Lia  pernah menaruh hati pada kakak Sarah ini, tapi dia tak terlalu berharap jika farabi punya perasaan yang sama dengannya. Karena sangat ia sadari, pasti begitu banyak wanita yang menawarkan cinta pada laki-laki itu, yang tentunya jauh lebih baik darinya. Karena itulah, gadis yang baru saja menyelesaikan kuliahnya ini tak mau berangan-angan terlalu jauh untuk mendapatkan simpati farabi.

    “Sarah, mbak benar-benar gak tahu harus ngomong apa. ” Jawab  Lia  bingung.

    “Mbak tinggal jawab aja kok, bersediakah jadi pendamping kakakku?” tanya Sarah dengan mata berbinar.
    Hening sejenak. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, terlebih Lia yang harus mempersiapkan jawaban.

    “Hmmm, Sarah, mana bisa mbak Lia  menolak jadi kakak ipar gadis sebaik dan selembut kamu, Sayang…” ucap Lia  sembari menarik Sarah ke dalam pelukannya.
    Sarah-pun berteriak gembira mendengar jawaban dari Lia  akhirnya mereka berdua mulai merencanakan sebuah kejutan untuk farabi. Sebuah kejutan untuk peringatan hari kelahiran farabi yang ke 25.
    Langit tampak mendung, warna birunya mulai berubah kehitaman. Sebenarnya Lia  menawarkan diri mengantar Sarah, dia tak tega jika gadis kecil itu harus berjalan tertatih dengan bantuan tongkat di tangannya. Tapi Sarah menolak tawaran itu dengan halus, jadi tak ada yang bisa diperbuat Lia. Hujan rintik mulai berubah deras, padahal Sarah belum sampai di blok rumahnya, maka ia putuskan berteduh di bawah pohon. Kilat silih berganti mewarnai derai hujan yang tak kunjung reda, hingga akhirnya sebuah petir menggelegar, menyambar pohon yang tampak rapuh dimakan usia, sehingga tumbang memenuhi badan jalan.
    Seorang gadis berseragam putih abu-abu, terjerembab jatuh tertimpa batang pohon yang tumbang. Matanya sedikit demi sedikit mulai terpejam, tak kuat lagi menahan kesakitan.Dan kesadarannya-pun benar-benar hilang, saat beberapa orang mulai menyadari kehadirannya.

    ***
    Angkasa malam-pun semakin pekat, hujan deras sore tadi telah menjelma menjadi rintik gerimis. farabi menatap wajah cantik adiknya yang terlihat begitu merona, walaupun sedang berjuang melawan maut. Seraut wajah yang beberapa bulan ini tak begitu ia perhatikan, bahkan bisa dibilang telah ia abaikan kehadirannya. Hatinya berkecamuk, antara penyesalan dan kemarahan yang ia tujukan pada dirinya sendiri, bibirnya terus berucap asma Tuhannya, memohon untuk kesembuhan gadis kecilnya. Seorang dokter keluar dari ruangan tempat Sarah berbaring,

    “Dok, bagaimana keadaan anak saya?” ucap Papa begitu khawatir.

    “Bagaimana putri saya dok, dia baik-baik saja kan?” sahut mama dengan untaian air mata di kedua belah pipinya.

    “Luka di kepalanya sangat parah, hanya kehendak Tuhan yang bisa membuatnya bertahan.” Papar dokter itu yang disambut tangisan mama yang semakin keras, membuat hati farabi semakin pilu.

    “Tapi, anda bisa masuk satu-persatu untuk menemuinya, tapi jangan terlalu lama.”

    Mama dan papa mulai bergantian masuk menemui putri kebanggaan mereka yang tengah terbaring tak berdaya, berharap senyum manisnya dapat terkembang kembali. Tibalah giliran farabi, matanya menatap nanar ke arah Sarah berada. Butiran-butiran bening-pun mulai meluncur dari sudut matanya.

    “Sarah, bangun dong, mas farabi mau ngajak adek ke kebun teh lo,” ucap farabi dengan suara bergetar, tepat disamping telinga kanan Sarah.

    “Maa..sss…” ucap Sarah begitu pelan.

    “Saa..rahh,” farabi sangat senang mendengar suara lembut Sarah lagi.

    “See..ka..rang, jam bera..pa Mas?”

    “Sekarang jam 12 malam, Sarah.” Tutur farabi sambil membelai tangan Sarah lembut.

    “See..lamat ulaa..ng tahu..nn, ya Mas.” Lanjut Sarah dengan terbata-bata, yang mebuat farabi menangis sejadi-jadinya. Dalam keadaan hidup dan mati-pun ternyata Sarah masih memperhatikannya. farabi mencium kening adiknya yang terbalut perban,

    “Terima kasih, Sarah. Maafkan mas, yang gak pernah bisa menjadi kakak yang baik buat kamu, maafkan mas yang gak pernah punya waktu untuk temenin kamu.”

    “Saa..raa..h sa..yang maaa..s Farabiii..i.” Setelah menyelesaikan kata-katanya,wajah Sarah menampakkan kesakitan yang teramat sangat, bibirnya hanya mampu berucap nama Tuhannya. farabi yang berada di sampingnya hanya mampu memeram perih melihat adik kandungnya tengah berjuang di detik terakhir hidupnya.

    ***
    Farabi terduduk di atas kasur tempat Sarah biasanya tidur, kamar bernuansa biru laut ini tak lagi berpenghuni. farabi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, memandangi wajah gadis kecilnya yang kini hanya dapat ia temui dari lembaran foto. Tangan kanannya menggenggam buku diary Sarah, dari buku inilah dia mengetahui segala isi hati Sarah, mulai dari kekecewaan,kerinduan, dan besarnya rasa sayang adik perempuannya itu kepadanya.

    “Mas farabi.” Sebuah panggilan membuyarkan lamunan farabi. Ia pun menoleh ke arah sumber suara

    “  LiA ?”
    Lia Agustina beranjak masuk dan menyerahkan sebuah buku catatan kepada farabi.

    “Sarah, yang kasih itu ke aku. Mas farabi sangat beruntung memiliki adik seperti dia. Sarah datang ke rumah, meyakinkan tentang perasaan mas ke aku. Dan ini, kue yang Sarah dan aku bikin untuk ulang tahun mas farabi hari ini”.
    Farabii membuka sebuah kartu yang berada di atas box kue, jelas sekali itu tulisan bidadari kecilnya,

    Assalamualaikum Mas farabi,

    Kakak-ku yang di Rahmati Allah, satu angka kini telah menggenapi usiamu. Tak terasa selama 25 tahun mas farabi selalu memberikan kebahagiaan untuk Sarah. Karena itu, kali ini Sarah punya kado yang sangat special. Aku yakin, mas farabi pasti sangat senang. Sebelumnya, maaffin Sarah ya, udah lancang baca catatan mas. Tapi dari situ aku bisa tahu apa yang kakak ganteng-ku ini inginkan. :p
    Sebenarnya mbak Lia  juga suka sama mas kok, mas farabi aja yang terlalu gengsi untuk bilang.Semoga mbak   Rahmi bisa benar-benar menjadi pendamping setia dan kakak ipar yang baik. Oke?! :D
    Salam sayang,

    Sarah Khoirunnisa

    “Ahhh…Sarah, kenapa aku baru sadar telah menyia-nyiakan adik yang berhati peri seperti kamu?” ucap farabi lirih, tangan kanannya menggenggam erat kartu peninggalan Sarah. “Terima kasih, Sarah. Kado bidadari ini akan mas jaga dengan sepenuh hati, seperti apa yang kamu inginkan.” Gumam farabi dalam hati, seraya matanya menatap lurus sosok Lia  yang berada di depannya.